Mengenai Saya

Foto saya
Deposuit potentes de sede et exaltavit humiles

Search Here

Loading

Like To Read Books?

Kamis, 16 Juni 2011

Interpol dan Seluk Beluknya

Foto: http://upload.wikimedia.org/
Saudara tentu pernah mendengar kata Interpol, namun apakah saudara sudah tahu apa sebenarnya Interpol itu? Ya, bagi anda yang sudah tahu dapat dipastikan tidak akan mengunjungi blog ini :) Tapi pada postingan kali ini saya mau mencoba menjelaskan apa itu Interpol dan apa itu Interpol Notice.


Interpol adalah organisasi yang dibentuk untuk mengadakan hubungan kerjasama antar kepolisian di seluruh dunia. Interpol dibentuk pada tahun 1923 dengan nama International Criminal Police Commission yang kemudian pada tahun 1956 berubah nama menjadi International Criminal Police Organization. Sebagian dari kita tentu mengira bahwa Interpol=International Police (termasuk saya sebelumnya). Teernyata, International Police adalah sebuah organisasi yang berfungsi untuk melakukan tugas-tugas kepolisian di negara yang dilanda perang dan sangat berbeda dengan Interpol.


Dalam melaksanakan tugasnya, Interpol dapat mengeluarkan tujuh jenis pernyataan menyangkut targetnya. Pernyataan Interpol atau yang disebut Interpol Notice adalah pemberitahuan internasional yang dikeluarkan oleh Interpol untuk berbagi informasi kepada seluruh anggotanya.


Inilah jenis-jenis Interpol Notice:


- Red Notice 
Adalah permintaan penangkapan orang yang diinginkan,dengan maksud untuk ekstradisi. Interpol Red Notice adalah instrumen paling dekat dengan surat perintah penangkapan internasional yang digunakan saat ini. Akan tetapi Interpol tidak memiliki wewenang untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan dalam arti kata formal, karena ini adalah wilayah dari anggota negara yang berdaulat.
Blue Notice
Adalah permintaan informasi tentang seseorang dalam hubungannya dengan kejahatan.
Green Notice
Berguna untuk memberikan peringatan dan intelijen kriminal tentang orang yang telah melakukan tindak pidana dan cenderung untuk mengulangi kejahatan ini di negara lain.
- Yellow Notice
Meminta bantuan mencari orang hilang (biasanya anak di bawah umur) atau mengidentifikasi orang yang tidak mampu untuk mengidentifikasi diri.
- Black Notice
Untuk mencari informasi pada badan tak dikenal.
Orange Notice
Untuk memperingatkan polisi dan organisasi internasional lainnya tentang potensi ancaman dari senjata yang disamarkan, bom parselatau bahan berbahaya lainnya.
- Yang terakhir, dan satu-satunya yang tak dinamai dengan jenis-jenis warna adalah Interpol-United Nations Security Council Special Notice
Dikeluarkan untuk kelompok dan individu yang menjadi sasaransanksi PBB melawan Al Qaeda dan Taliban. Ini diciptakan pada tahun 2005 atas permintaan Dewan Keamanan PBB melalui adopsi resolusi 1617 dan dilaksanakan melalui penerapan resolusi INTERPOL AG-2005-RES-05.

Itulah sekilas yang dapat saya bagikan untuk membantu saudara mengetahui apa itu Interpol dan jenis-jenis pemberitahuannya. Semoga bermanfaat!



                                                                                               Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Interpol_notice

Rabu, 15 Juni 2011

Terjerat Kasus, Lari Keluar Negeri

sumber foto: http://sharamarcheline.blogspot.com
Selalu saja ada yang salah dengan mentalitas bangsa kita. Bukannya saya merendahkan keluarga saya se-nusantara. Namun pada dasarnya kita pasti pernah lari dari masalah, terlepas dari besar kecilnya masalah yang kita hadapi. Namun parahnya, mentalitas seperti ini yang masih terbawa dan (tampaknya) masih mempengaruhi generasi yang akan datang. Anda tahu, bukan semudah membalikkan telapak tangan saat kita berbicara merubah mentalitas suatu bangsa. Dibutuhkan kerja ekstra keras untuk mewujudkannya. Kita seringkali terlalu takut sehingga kita berlari, dan kalau terus-terusan berlari, kita akan kecapekan dan akhirnya hidup pun tak tenang. Kalau menurut saya sih, lebih baik kita mulai dari sudut terkecil, mulai dari diri kita sendiri. Berubah utuk merubah orang lain :)

Perginya Nunun Nurbaeti ke luar negeri hanya secuil kisah tentang para petinggi negara ini yang 'lari' keluar negeri setelah tersandung suatu kasus (paling banyak kasus korupsi). Sampai saat ini Nunun masih diperkirakan berada di Kamboja dan memiliki sebuah tempat tinggal di sana. Usaha KPK untuk memulangkan Nunun pun dapat dikatakan sudah lebih baik dari kasus-kasus sebelumnya. Terkecuali kasus mantan bendahara Partai Demokrat yang baru-baru ini dibuatkan lagu dengan judul Nyasarudin, Nazarudin yang 'diduga' melarikan diri ke Singapura dengan alasan berobat. Sedangkan kita belum mempunyai perjanjian ekstradisi dengan Singapura dikarenakan persyaratan yang diajukan pihak Singapura terlalu berat untuk dituruti.

Menurut kabar yang beredar Singapura meminta wilayah R.I sebagai syarat perjanjian ekstradisi. Dan ini yang tidak bisa kita penuhi. Akibatnya, Singapura menjadi tempat berlindung yang nyaman bagi para pelarian dari Indonesia.

Kembali pada kasus Nunun, saat ini KPK telah mengajukan surat Red Notice kepada Interpol melalui Polri. Jika hal ini disetujui maka dapat dipastikan bahwa Nunun akan menjadi buruan internasional.

Kembali, kita dihadapkan pada masalah karakter bangsa.

Bangsa Tak Berkarakter, Akibat Absennya Pendidikan Kejujuran


Melihat compang-campingnya kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini membuat kita semua mempertanyakan apa yang salah dengan negara ini. Korupsi, kriminalitas, dan masalah-masalah lain selalu memenuhi layar televisi kita. Berita-berita pun semakin hari semakin mengungkapkan kebobrokan kehidupan bangsa ini. Mulai dari kejahatan kelas tinggi yang dilakukan para pejabat hingga kejahatan kelas teri yang dilakukan rakyat jelata atas dasar ‘terpaksa’. Lalu apa yang sebenarnya salah di negeri ini? Jika kita tarik garis lurus, dapat diambil kesimpulan bahwa semua hal yang terjadi saat ini hanya sebagian kecil akibat kegagalan kita dalam dunia pendidikan.

Dunia pendidikan kita saat ini seolah-olah hanya berorientasi mengejar ketertinggalan dengan negara-negara asia tenggara lainnya. Namun pada titik terpenting sistem yang telah bertahun-tahun diterapkan seakan lupa terhadap fungsi pendidikan sebagai pembentuk karakter bangsa. Akhirnya bangsa kita pun tumbuh menjadi bangsa yang tak punya karakter. Dalam perkembangannya, pendidikan kejujuran kini bukan saatnya lagi hanya menjadi obrolan dari warung ke warung, dari mulut ke mulut. Sudah saatnya bagi pemerintah untuk mulai menerapkan pendidikan kejujuran pada tingkat dasar, menengah sampai tingkat tinggi.

Dalam Pancasila telah disebutkan cita-cita bangsa Indonesia, khususnya sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Cita-cita yang mulia ini belum akan tercapai bila manusia-manusia Indonesia belum menjadi manusia yang berkarakter Pancasila. Semakin lama kita semakin terjerat gaya hidup manusia modern. Kita tak lagi peduli dengan masalah kemanusiaan, selama apa yang terjadi tidak terjadi pada orang yang berarti bagi kita.

Oke, kembali pada masalah pendidikan. Sedikit gambaran tentang bagaimana potret dunia pendidikan kita. Mari kita kembali sejenak ke masa lalu. Dahulu pada jaman kolonialisme, pendidikan di negeri ini hanya didasarkan pada satu hal, pemenuhan tenaga kerja untuk pemerintah kolonial. Dalam artian pendidikan saat itu hanya berorientasi pada uang (money oriented). Hal ini pulalah yang terjadi pada pendidikan kita beberapa tahun terakhir ini. Para tenaga pendidik seperti menciptakan peperangan mencari nilai terbaik tanpa memperhatikan unsur-unsur yang lebih penting daripada angka-angka itu sendiri. Apalagi dengan mainset yang sudah terlanjur berkembang pada masyarakat luas dan menjadi sebuah aturan tak tertulis, bahwa kita sudah seharusnya sekolah kemudian kuliah dan bekerja. Tanpa memperhatikan bagaimana proses kita menjalani hal tersebut. Hal-hal demikianlah yang terus-menerus diulangi dan diulangi hingga terbentuk manusia-manusia yang tak berkarakter. Kita hanya seperti mengisi bejana dengan air, padahal pendidikan itu layaknya menyalakan api dalam gelap.

Beberapa kasus terbaru yang ikut menelanjangi tubuh pendidikan Indonesia adalah adanya menyontek massal pada ujian nasional SD yang parahnya telah dikoordinasi sebelum UN oleh salah satu guru pengajar. Para pejabat yang juga merupakan hasil pendidikan semakin mempermalukan sistem pendidikan kita dengan korupsi yang merajalela. Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan kejujuran merupakan materi dalam dunia pendidikan kita yang terlupakan.

Pendidikan kejujuran dapat diartikan sebagai pembentukan karakter pada peserta didik. Pendidikan kejujuran sebaiknya dilakukan sejak usia dini dan dibarengi juga dengan pendidikan moral, logika dasar, dan filsafat.

Pemberian materi pendidikan kejujuran harus didasarkan pada empat hal yang tidak boleh dilupakan, diantaranya:
1. Keserasian antara teori yang diberikan dan prakteknya dalam kehidupan sehari-hari (das Sollen und das Sein). Materi yang diberikan dapat diaplikasikan dan dapat digunakan dalam mencari solusi.
2. Membentuk lingkungan yang mendukung pelaksanaan pendidikan kejujuran baik dalam lingkup keluarga, sekolah dan masyarakat. Materi sebaik apapun tidak akan diserap dengan baik tanpa dukungan lingkungan sekitar.
3. Kemampuan menempatkan diri. Guru seharusnya menjadi guru, bukan menjadi pedagang buku. Jaksa seharusnya menjadi jaksa bukan penjual kasus.
4. Pembentukan karakter yang kuat. Pemberian materi moral akan mampu membantu siswa membedakan mana yang benar dan salah. Pepatah Agere Contra, yaitu bertindak sebaliknya dari keinginan sesaat yang muncul perlu dibiasakan untuk membentuk kemauan keras dalam membuat pilihan.

Entri Populer